Informasi Tentang Segala Khasiat Dan Manfaat Apapun

Saturday, September 17, 2016

Pengobatan Osteoporosis

Osteoporosis merupakan penyakit metabolik tulang yang ditandai dengan menurunnya kepadatan tulang dan perubahan mikroarsitektur jaringan tulang sehingga tulang menjadi rapuh dan mudah patah. Osteoporosis kadang-kadang dianggap sebagai "silen disease" karena kehilangan tulang terjadi tanpa gejala. Bahkan, banyak orang tidak tahu bahwa mereka memiliki penyakit ini sampai penyakit ini mematahkan tulang mereka. Osteoporosis merupakan salah satu jenis penyakit yang berpotensi menakibatkan kelumpuhan pada tiap penderitannya.

Apabila osteoporosis telah menyerang, pengobatan pun harus segera dilakukan. Pengobatan osteoporosis terdiri dari tindakan umum dan pengobatan spesifik.



A. Tindakan Umum

Apabila memungkinkan, penderita osteoporosis dianjurkan melakukan aktifitas fisik ringan secara teratur. Misalnya, berjalan kaki selama 30-60 menit per hari untuk meningkatkan densitas massa tulang, menguatkan otot, serta terkoordinasinya jaringan otot dan saraf. Dengan demikian, penderita osteoporosis tidak limbung dan mudah terjatuh. Asupan kalsium dijaga sekitar 1000-1500 mg per hari baik melalui makanan, susu berkalsium tinggi, maupun suplemen. Selain kalsium, pemberian makanan sebaiknya juga cukup mengandung protein dan vitamin D.


Selama ada rasa nyeri akut, penderita osteoporosis harus istirahat terlentang. Rasa nyeri bisa berkurang dengan pemberian kompres air hangat di tempat yang sakit. Bila tidak dapat meninggalkan tempat tidur, penderita jangan sampai kekurangan vitamin D, bila perlu berikan suplemen vitamin D 400 IU per hari karena kekurangan cahaya matahari.

Apabila rasa nyeri akut telah teratasi dengan obat-obatan, penderita yang masih terbaring di tempat tidur pun perlu mendapat latihan fisik secara aktif maupun pasif (fisioterapi). Tanda nyeri akut mulai mereda bila penderita sudah dapat merubah posisi di tempat tidur dengan leluasa tanpa rasa nyeri. Hal ini biasanya sudah bisa dilakukan setelah 7-14 hari terjadinya fraktur di ruas tulang belakang. Setelah dapat berjalan, latihan fisik umum yang dapat dilakukan antara lain jalan kaki, berenang, atau bersepeda stasioner. Hal ini dilakukan  untuk mengurangi resorpsi tulang dan meningkatkan pembentukkan massa tulang. Penderita juga harus banyak minum sampai urinnya berwarna jernih seperti air putih.


B. Pengobatan Spesifik

Pengobatan spesifik sangat bervariasi tergantung pada penyebabnya. Namun, pada dasarnya obat-obat yang digunakan ditujukan untuk meningkatkan pembentukan tulang dan mengurangi resorpsi tulang. Dengan demikian dapat dikurangi kehilangan massa tulang yang dapat menyebabkan terjadinya fraktur.


Mengingat osteoporosis merupakan kelainan yang prosesnya terus berlanjut sepanjang sisa hidupnya, maka pencegahan dan pengobatan perlu dilakukan terus-menerus. Penghentian pengobatan berarti proses penghancuran tulang oleh osteoklas akan berlanjut kembali dan osteoporosis yang sudah berhasil diatasi akan berulang kembali.
Jenis obat-obatan spesifik yang diberikan pada penderita osteoporosis:

1. Hormon estrogen
Pemberian hormone replacement therapy (HRT) pada perempuan di awal menopause merupakan cara yang efektif untuk mencegah kehilangan massa tulang. Hormon estrogen ini merupakan hormon yang dapat mengurangi proses resorpsi tulang.

Agar penggunaan estrogen memberikan manfaat maksimal pada tulang tanpa efek yang buruk, telah dikembangkan selektif estrogen-estrogen modulator yaitu raloxifene. Penggunaan obat ini telah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) guna pengobatan dan pencegahan osteoporosis. Raloxifene dapat mengurangi resiko fraktur tulang belakang sampai 36 %. Seperti estrogen, raloxifene juga mempunyai efek protektif terhadap penyakit jantung koroner dan dislipidemia.

2. Kalsitonin
Kalsitonin merupakan hormon polipeptida yang dihasilkan oleh sel C kelenjar tiroid, paratiroid, paru-paru, adrenal, timus, dan otak. Kalsitonin bisa mempertahankan massa tulang  dengan cara mengatur metabolisme kalsium dan tulang. Fungsi kalsitonin yaitu menurunkan kadar kalsium darah yang meningkat akibat adanya percepatan resorpsi sehingga kalsium keluar dari tulang. Kalsitonin bekerja dengan cara menghambat aktivitas osteoklas sehingga resorpsi tulang dihambat serta meningkatkan pembuangan kalsium, fosfor, dan natrium melalui urine.

Efek positif dari pemberian kalsitonin yaitu meningkatnya densitas mineral tulang di tulang belakang bagian lumbal. Adapun efek samping yang kadang timbul berupa muka merah disertai rasa panas, mual, diare, peradangan pada tempat suntikan, atau iritasi lokal.

3. Bisfosfonat
Obat yang termasuk senyawa biofosfonat antara lain alendronate dan risedronate. Obat ini digunakan untuk pengobatan osteoporosis, terutama pada wanita premenopause tanpa gangguan siklus haid dan laki-laki dengan kadar testoteron normal. Aktivitas antiresorptif bisfosfonate bekerja dengan cara menghambat kerja osteoklas yang berlebihan. Obat ini diminum sekali sehari, pada pagi hari, sekurang-kurangnya 30 menit sebelum makan atau minum pertama. Obat harus diminum denga 2 gelas air putih, tanpa dikunyah atau digerus. Setelah minum obat, posisi tubuh harus tegak (jangan berbaring), bisa duduk atau berdiri selama 1/2 jam. Untuk residronate, tablet juga boleh diminum 2 jam setelah makan atau minum, atau minimal 10 menit sebelum tidur. Dosis tinggi menyebabkan mual dan diare. Dari berbagai penelitian dengan bisfosfonat, ternyata obat ini juga mempunyai efek yang baik untuk pencegahan dan pengobatan osteoporosis akibat steroid karena dapat meningkatkan BMD pada daerah lumbal.

4. Kalsium
Dosis kalsium yang diberikan sebelum menopause 800-1000 mg/hari, selama periode menopause 1000-1200 mg/hari, dan setelah menopause 1200-1500 mg/hari. Makanan sehari-hari umumnya hanya mengandung 350 mg kalsium sehingga masih di butuhkan suplemen kalsium. Sebaiknya tablet kalsium, vitamin D atau susu berkalsium tinggi diminum setelah makan malam karena pembentukan tulang terjadi pada malam hari. Suplemen kalsium yang terbaik adalah kalsium karbonat dan kalsium sitrat. Pemberian kalsium harus sangat hati-hati pada penderita dengan hiperkalsemia, hiperkalsiuria, dan riwayat batu ginjal. Sebelum pemberian kalsium, sebaiknya diperiksa dulu kalsium dan kreatinin urin 24 jam. Selama minum tablet kalsium, minum air putih harus lebih banyak untuk mencegah timbulnya sembelit.

Efek samping pemberian kalsium antara lain muntah, mual, sembelit, iritasi lambung, dan rasa kapur di lidah. Pemberian jangka panjang bisa menyebabkan kadar kalsium darah meningkat, yang akan memberikan gejala sakit kepala, pusing, rasa mengantuk, terjadinya batu ginjal, dan pengapuran jaringan lunak.

5. Vitamin D
Vitamin D tergolong vitamin yang larut dalam lemak. Dengan ditemukannya reseptor untuk bentuk aktaif vitamin D, maka vitamin ini lebih bersifat hormon. Vitamin D berperan dalam penyerapan kalsium dan fosfat melalui usus halus, serta mengurangi pembuangannya melalui ginjal. Vitamin ini hanya diperlukan bila penderita osteoporosis mengalami devisiensi vitamin D dan kurang mendapat sinar matahari. kekurangan vitamin D, baik relatif maupun absolut dapat mengganggu penyerapan kalsium sehingga dapat menyebabkan kehilangan massa tulang yang lebih besar.

6. Androgen
Androgen adalah hormon kelaki-lakian yang dikenal sebagai steroid anabolik yang kuat. Turunnya kadar androgen pada laki-laki, baik pada usia lanjut maupun akibat hipogonadism, akan menimbulkan kerapuhan tulang. Steroid anabolik merupakan pembentuk tulang yang positif. Nandrolon, metandrostenolon,  dan etilestrenol merupakan steroid anabolik yang dapat digunakan pada penderita osteoporosis pria dengan defisiensi androgen. Namun pada perempuan dengan postmenopausal osteoporosis tidak diberikan obat ini karena bisa menimbulkan efek samping maskulinisasi, seperti timbulnya jerawat, tumbuhnya kumis, suara menjadi besar, haid tidak teratur. Pada pria dapat timbul gejala seperti payudara yang membesar dan pembesaran prostat pada laki-laki usia lanjut.
Efek samping berupa peningkatan enzim hati, retensi cairan, efek androgenik, dan turunnya kadar HDL-kolesterol dalam darah.

7. Fisioterapi
Keterbatasan gerak dan imobilitas total akan berpengaruh negatif pada otot dan tulang. Kedua keadaan tersebut akan mengganggu proses remodelling tulang dan menimbulkan osteopenia yang akan berlanjut ke osteoporosis. Pada penderita osteoporosis perlu diberi latihan beban atau stres pada tulang, sepert melakukan penarikan atau penekanan pada tulangnya agar proses pembentukkan tulang baru bisa dipertahankan.

8. Operasi
Operasi hanya dilakukan bila terdapat gangguan neurologis atau adanya ruas tulang belakang yang tidak stabil. Dengan operasi, dilakukan perbaikan kedudukan tulang yang osteoporotik. Cara lain yang lebih sederhana yaitu tanpa melakukan operasi terbuka dengan cara vertebroplasty dan kyphoplasty. Tindakan yang dilakukan adalah dengan menyuntikkan semacam semen tulang berupa polymethylmethacrylat ke dalam ruas tulang belakang yang fraktur. Kedua tindakan di atas bisa mengurangi rasa sakit pada tulang yang fraktur.


Sumber: Buku "Resep Tumbuhan Obat untuk Penderita Osteoporosis" oleh Dr. Setiawan Dalimartha



Share on Facebook
Share on Twitter
Share on Google+
Tags :

Related : Pengobatan Osteoporosis

0 komentar :

Post a Comment